Senin, 08 September 2014

Perlukah Kamu Istirahat Sejenak Dari Media Sosial?

Jika dimanfaatkan dengan baik, media sosial (medsos) bisa jadi sangat berguna. Sebagai penopang bisnis, medsos memberikan kemudahan bagi penjual jasa atau barang untuk berkomunikasi langsung dengan target audiens. Dalam konteks yang lebih kasual, media sosial dapat dilihat sebagai jalur komunikasi yang mudah, cepat, dan fun.

Namun jika kamu nggak berhati-hati, medsos juga bisa menghancurkan bisnismu atau merusak hubungan personalmu. Dan memperhatikan fenomena cyber-bullying saat ini, bahkan orang-orang yang nggak saling kenal pun bisa saling melukai lewat medsos.

Pernahkah alasan-alasan di atas membuatmu berpikir untuk rehat sejenak dari media sosial? Jika kamu butuh untuk lebih diyakinkan, Hipwee bisa memberimu beberapa alasan tambahan:

 

1. Tanpa Terasa, Waktumu Banyak Terbuang

Telepon sambil berjalan

Waktumu banyak terbuang via www.vs-world.net

Twitter, Path, Facebook dan Instagram merupakan media sosial yang sangat mudah digunakan. Mereka bisa hadir di layar komputermu dan selalu muncul di layar ponselmu. Kepraktisan ini bikin kamu mudah sekali tergoda untuk menghabiskan waktu dengan aplikasi-aplikasi itu.

Mungkin niatmu hanya sekedar berbagi cerita dan mendapatkan informasi. Kamu juga menakar bahwa waktumu yang terbuang untuk tiap sesimu di Facebook hanya 3-5 menit. Tapi kalau dalam sehari kamu punya 8-10 sesi, waktumu yang terbuang sudah hampir 1 jam sendiri. Itu baru Facebook — belum lagi Twitter, Path, dan sahabat-sahabatnya yang lain!

 

 

2. Makin Lama, Apa yang Kamu Baca di Medsos Makin Nyebelin

Bikin sebel

Bikin sebel via www.ebony.com

Inget nggak betapa cintanya kita sama Facebook waktu situs ini pertama kali muncul? Nggak lama berselang, hadir pula Twitter. Tapi namanya juga euforia, kecintaan itu nggak berlangsung selamanya. Sekarang kita lebih sering dibikin sebel daripada senang oleh mereka. Mulai dari iklan, sponsored post, status gak penting, apa yang mereka makan, dan segala drama pacaran — ada banyak hal di ruang publik internet yang sebenarnya nggak pengen kita tahu, tapi lalu terpaksa tahu.

Jika kamu merasa terganggu oleh teman-temanmu, percuma juga mengingatkan mereka. Adanya hubungan kalian rusak di dunia nyata. Mending cabut aja dari medsos!

3. Medsos Bikin Kamu Insecure Tanpa Alasan Jelas

Show off

Holiday Braggie via www.dailymail.co.uk

Pernah gak menyadari bahwa media sosial bisa menurunkan kepercayaan dirimu? Kamu jadi punya reflek untuk membandingkan kehidupanmu di dunia nyata dengan hidup temanmu di dunia maya.

Menyaksikan pembaharuan status temanmu yang gak henti-hentinya tentang sarapan enak di hotel X, pelayanan oke dari pesawst Y, atau diskon asyik di Singapur… Jika kamu terus-terusan dipaksa melihat betapa fabulous-nya kehidupan temanmu, bahkan kamu yang aslinya nggak insecure bisa jadi minder.

4. Belum Lagi, Masalah Privasi

privacy breached

privacy breached via blogs.crikey.com.au

Sebagai manusia, udah sepatutnya kamu menghargai privasi diri maupun orang lain. Namun ketika memasuki ranah media sosial, pembatas antara materi publik dengan materi pribadi seolah terhapus. Kamu nggak bisa mengontrol privasimu di media sosial.

Lihat aja kasus Florence Sihombing. Aksinya mencak-mencak di Path memang tindakan yang gak terpuji, tapi apakah terpuji jika kita membeberkan alamat kosnya? Menyebarkan omor plat kendaraannya? Mengolok-olok fotonya menjadi meme? Jika merasa privasimu diganggu (atau malah kamu melanggar privasi orang lain), ada baiknya kamu berhenti dulu main di media sosial.

5. Hubungan Yang Terjalin Disitu Semu

ter

Hubungan Semu via www.traveldailymedia.com

Apakah kamu benar-benar berteman dengan ‘teman-teman’ Facebook-mu? Benarkah pembaharuan status dan ‘selfie’ yang tiada henti membuat kamu dan mereka menjadi lebih dekat?

Di media sosial, konten dan materi apapun yang ingin di-share itu bisa dipilah, dibuang, dan disunting. Jadi, apa yang kamu lihat di akun temanmu bisa saja nggak mewakili semua hal yang sesungguhnya terjadi pada temanmu. Sebaliknya, apa yang mereka dapatkan dari akun media sosialmu tidak serta merta menggambarkan keadaanmu sebenarnya. Jadi, pertemanan yang kalian lakukan sebenarnya hanyalah pertemanan semu.

6. Hubunganmu Yang Nyata Bisa Terbengkalai

Ngobrol boleh kali.

Ngobrol boleh kali. via expressandconnect.com

Ini merupakan imbas langsung jika kamu terlena dengan pertemanan semu tadi. Emang benar, media sosial bisa mendekatkan kamu dengan teman nan jauh di sana. Namun, media sosial juga bisa bikin kamu lupa dengan lupa pertemanan yang ada di sekitarmu. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.

Udah berapa sering kamu mengabaikan keluarga, yang sebenarnya lagi bareng kamu, karena kamu lagi asik update status? Berapa banyak teman kamu yang gigit jari karena kamu cuma mantengin layar ponsel pas lagi nongkrong? Kamu harusnya bisa selalu lebih  menghargai dan meluangkan waktu buat mereka yang beneran hidup dan bernapas di sampingmu.

7. Drama, Drama, Drama

Di media sosial, semua orang jadi hakim

Di media sosial, semua orang jadi hakim via 1.bp.blogspot.com

Di media sosial, selalu ada kemungkinan pendapatmu disalahartikan oleh pengguna media sosial lain. Kamu pun juga bisa menyalahartikan pendapat pengguna lain. Hal yang seperti ini bisa berujung saling tuding, ejek-mengejek dan bermusuhan. Pokoknya drama, deh, tapi drama yang kekanak-kanakan. Pastikan kamu gak tersedot ke dalam lingkaran drama ini!

8. Produktivasmu Menurun

Gak ada yang peduli sama bos kamu!

Gak ada yang peduli sama bos kamu! via steveradick.com

Ini bakal terjadi jika kamu curi-curi kesempatan buat ngecek media sosial di tempat kerja. Memang, break bentar bikin otak kamu segar lagi buat kerja, namun jangan juga buang kesempatan istirahat hanya buat check-in “Lagi di kantor nih…” — apalagi kalau 2 jam kemudian kamu berkicau “Suasana kantor lagi gak asik!” atau “Bos pelit!!! KZL.”

Selain gak ada yang peduli, keluhan kamu di tempat kerja juga minin faedahnya. Produktivitas kamu menurun, karir kamu terancam lenyap.

9. One-Dimentional Thinking

Teliti dulu sebelum merespon

Teliti dulu sebelum merespon via sidomi.com

Ketika media sosial udah merasuki pikiranmu, gak jarang kamu menjadikannya tolok ukur dari apa yang penting atau apa yang benar-benar terjadi. Misalnya, kamu jadi percaya pada hoax hanya karena ratusan ribu orang me-retweet-nya. Kamu pun akan puas sekedar ‘mencintai” sebuah foto di Path atau Instagram, tanpa berusaha untuk mengetahui makna dibaliknya. Ketika Like, Views, dan emoticon jadi standar benar-salah atau hitam-putih, maka kamu akan riskan melupakan bahwa selalu ada area abu-abu.

10. Kamu Akan Merasa Hampa Ketika Gak Ada Akses Internet

Kamu merasa mati gaya ketika kuota internet udah mencapai limit, atau ketika tidak ada WiFi disekelilingmu. Jika ini yang kamu rasakan berarti penggunaaan media sosialmu udah mencapai level kecanduan. Ketagihan ini terjadi karena kamu gak tahu apa lagi yang harus diperbuat selain berkicau di Twitter atau scrolling foto-foto di Instagram. Kalau sudah begini sih, memang sebaiknya kamu cabut dulu dari media sosial!

Seperti yang diungkapkan di awal artikel, gak selamanya media sosial selalu berdampak buruk. Dengan dosis yang tepat dan penggunaan yang cerdas, kamu bisa memanfaatkan media sosial sebagai jendela ilmu.

Masalah datang tatkala kamu menghabiskan lebih banyak waktu dan tenaga di media sosial daripada kehidupan sosial. Masalah datang ketika poin-poin di atas tadi sebenarnya menyentilmu. Kalau memang masalah itu datang, kamu tahu ‘kan apa yang seharusnya kamu lakukan?

Ketika Kamu Salah Jurusan: Lanjut Kuliah, atau Bubar Jalan?

Masa remaja adalah masa meraba renjana. Makanya, memilih jurusan di perguruan tinggi bisa jadi hal yang paling dilematis untukmu yang baru lulus SMA. Ada siswa yang sudah punya gambaran ketika akan menentukan jurusan, ada yang menyerahkan pilihan pada orang tua, ada pula yang masih bimbang kemana mau melanjutkan studi. Memilih jurusan kuliah itu memang bukan hal mudah; ini keputusan besar yang bisa mengubah hidupmu.

Lalu, apa yang harus kamu lakukan jika sudah mengambil suatu program studi, dan di tengah jalan merasa tidak cocok dengan apa yang kamu pelajari? Haruskah memulai dari awal dengan jurusan yang baru, atau terus melangkah meski setengah hati?

 

1. Masa kuliah adalah tempat kamu menemukan jati dirimu yang sebenarnya.

Kuliah: masa menemukan jati diri.

Kuliah: masa menemukan jati diri. via www.usd.ac.id

Kuliah adalah masanya kita berinteraksi dengan dunia luar yang lebih luas dan beragam. Kamu akan dihadapkan pada lebih banyak pilihan dibandingkan dengan masa SMA. Kamu akan menemukan hal-hal baru yang memperluas wawasan kamu. Di sanalah kita belajar mengenal diri kita yang sebenarnya: apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini.

Tapi, sebagian dari kita menemukan bahwa ternyata renjana kita gak sejalan sama jurusan yang kita tekuni. Buat kamu yang udah sampai di titik ini, mungkin kamu merasa menyesal dengan pilihan studi yang udah kamu ambil setelah lulus SMA. Selamat! Kamu udah resmi salah jurusan.

 

 

2. Salah jurusan gak harus disesali.

Gak perlu menyesal salah jurusan.

Gak perlu menyesal salah jurusan. via www.shitlicious.com

Siapapun pasti pernah mengambil keputusan yang kurang tepat dalam hidupnya. Jadi, kalo kamu merasa salah jurusan saat ini, gak usah menyesal. Lebih baik perhatikan apa yang bisa kamu perbuat sekarang.

Ambil hikmah dari situasi ini; pandanglah kesadaran bahwa kamu salah jurusan sebagai sebuah anugerah. Kamu udah bisa meraba siapa dirimu sebenarnya dan apa yang kamu inginkan dengan hidupmu, jadi bersyukurlah. Banyak lho orang-orang yang gak bisa mendapatkan kesadaran yang serupa. Karena tetap buta akan apa yang sebenarnya mereka mau, akhirnya apa aja yang ada di hadapan mereka akan mereka kejar.

 

 

3. Lalu, pindah jurusan atau tetap bertahan?

afafadf

Pindah atau bertahan? via galleryhip.com

Oke, kamu udah salah milih jurusan. Tapi, itu artinya kini kamu punya dua pilihan baru: pindah jurusan atau tetap bertahan di prodimu yang sekarang. Lantas, kamu mesti gimana? Untuk menjawab mana yang bakal dipilih, kamu perlu mempertimbangkan beberapa hal. Antara lain lamanya kuliah, biaya yang sudah kamu keluarkan, dan seberapa cepat kamu bisa menyerap ilmu.

 

 

4. Sayang gak sih, kalo pindah jurusan sekarang?

Pindah jurusan sekarang?

Pindah jurusan sekarang? via uai.ac.id

Lamanya masa studi yang udah kamu tempuh bisa jadi bahan pertimbangan dalam memutuskan untuk pindah jurusan atau enggak. Kalo kamu masih berada di semester-semester awal, gak ada salahnya buat berkonsultasi dengan orang tuamu tentang keinginanmu pindah jurusan. Yang namanya passion itu memang harus dikejar sedini mungkin. Kalo memang dibolehkan, kamu bisa mencoba ikut ujian masuk ke fakultas impianmu.

Tapi kalo kamu udah berada di semester akhir, kamu juga perlu mempertimbangkan buat menyelesaikannya lho. Apalagi kalo kamu tinggal menuntaskan skripsi untuk mendapat gelar sarjana. Mengingat waktu, tenaga, dan biaya yang udah kamu keluarkan, sayang banget kalo studimu gak diselesaikan cuma gara-gara kamu galau, padahal kamu mampu.

 

 

5. Ingatlah pencapaian yang udah kamu gapai selama bertahun-tahun kuliah.

asdasdaadad

Ingat pencapaian yang udah kamu raih. via www.usd.ac.id

Meskipun prodi yang kamu tekuni bukan panggilan jiwamu, bukan berarti kamu gak mampu, ‘kan? Nyatanya banyak kok mahasiswa yang salah jurusan tapi bisa lulus dengan IPK di atas tiga, meski bukan lulusan terbaik. Kalo memang udah tanggung, selesaikan aja apa tugasmu dan bikin orang tuamu bangga.

Ingat juga semua teman baikmu satu prodi yang selama ini bareng-bareng sama kamu, serta semua pengalaman yang kamu dapatkan dari mereka. Kamu berkembang sampai kayak gini juga mungkin karena andil mereka dalam hidupmu. Meski salah jurusan, gak ada salahnya lulus bareng-bareng sama mereka.

 

 

6. Waktu gak akan menunggumu.

Temantemanmu udah jadi sarjana, masa kamu mau jadi maba lagi?

Teman-temanmu udah jadi sarjana, masa kamu mau jadi maba lagi?

Udah berapa lama kamu kuliah? 3, 4 tahun? Memutuskan buat pindah jurusan setelah bertahun-tahun menempuh studi tentu sah-sah aja. Tapi, waktu yang udah kamu investasikan buat kuliah juga gak bisa ditarik kembali.

Coba kita simulasikan. Anggap saja usiamu saat ini 22 tahun dan udah menempuh studi selama 8 semester — tinggal selesaiin skripsi doang nih. Lalu, kamu memutuskan buat pindah jurusan dan memulai semua dari awal. Artinya, kamu perlu waktu setidaknya 4 tahun lagi untuk menempuh studi di jurusan yang kamu inginkan. Berarti, paling cepat kamu lulus usia 26. Itupun kalo tepat waktu.

Semakin berumur dirimu, semakin sulit kamu mendapatkan pekerjaan yang kamu impikan kalo gak punya pengalaman. Daripada kamu mengulang dari awal, lebih baik kamu belajar mandiri sambil mencari pengalaman yang sesuai dengan renjanamu.

 

 

7. Ijazah hanya bisa didapat lewat kuliah, tapi ilmu bisa didapat dengan berbagai cara.

aaaaa

Belajar secara otodidak juga bisa. via suturi.com

Ingat artikel tentang perusahaan Google yang gak butuh ijazah? Nah, kamu masih punya kesempatan yang lebar untuk menggapai pekerjaan impianmu meski latar pendidikanmu gak sejalan. Kecuali profesi yang kamu inginkan itu butuh keahlian yang spesifik–seperti dokter, insinyur, ahli ekonomi, ahli bahasa, atau pengacara–kamu bisa kok mempelajari ilmunya secara mandiri atau otodidak.

Jadi, sembari berusaha merampungkan studimu dengan sebaik mungkin, kamu bisa memanfaatkan waktu luangmu buat mengasah skill yang penting buat menggapai renjanamu nanti. Kalo pengen belajar lewat internet, kamu bisa intip artikel ini.

 

 

8. Lalu, jika kamu masih di semester awal dan ingin pindah, apa kamu sudah mantap?

Yakin udah mantap?

Yakin udah mantap? via thinkmarin.net

Sebelum kamu memutuskan kamu merasa gak cocok di prodimu yang sekarang dan pengen pindah jurusan, coba ditelaah lagi deh. Apakah jurusan yang kamu tuju memang sejalan dengan passionmu, atau kamu sebenarnya hanya gak betah dengan jurusan yang sekarang? Ingat, biaya  masuk kuliah itu gak murah. Kalo memang ingin pindah, pastikan kamu mantap dengan pilihanmu.

 

 

9. Kuliah di jurusan apa pun, kamu tetap akan merasakan titik jenuh.

Dimanapun, kamu akan menghadapi kejenuhan.

Dimanapun, kamu akan menghadapi kejenuhan. via www.huffingtonpost.com

Kalau kamu merasa jenuh dengan kuliahmu yang salah jurusan, apa dikira kamu gak bakal jenuh jika mengambil jurusan yang sesuai renjanamu? Belum tentu. Mau kamu kuliah di mana pun, rasa jenuh akan rutinitas tetap akan menghinggapimu.

Begitu pula saat kamu bekerja sesuai passion-mu. Rasa jenuh tetap akan menghinggapimu jika kamu terus dihadapkan dengan rutinitas. Bedanya, kamu jauh lebih ikhlas untuk tenggelam dalam rutinitas jika pekerjaanmu adalah renjanamu.

 

 

10. Salah jurusan bukan alasan buat malas kuliah.

Salah jurusan bukan alasan buat malas.

Salah jurusan bukan alasan buat malas. via imgarcade.com

Terjebak di jurusan yang gak sesuai dengan renjanamu memang kurang menyenangkan. Tapi, itu bukan alasan buat malas kuliah lho, terutama buat kamu yang sudah menempuh tahun ketiga dan keempat. Anggap saja lulus dari sana adalah tantangan yang mesti kamu hadapi untuk menjadi dewasa yang seutuhnya.

Ingat, saat kamu benar-benar dewasa nanti, terkadang kamu harus melakukan hal-hal yang gak ingin kamu lakukan; ini adalah realitas hidup yang gak bisa kamu sangkal. Jadi, alih-alih mengeluh dan jadi ogah-ogahan, lebih baik kamu menjawab tantangan yang sudah diberikan Tuhan untuk menaikkan levelmu.

 

Salah jurusan bukan berarti akhir dari segalanya, kamu tetap bisa menggapai cita-citamu dan menjadi dirimu sendiri kok. Tetaplah bertahan, hadapi tantangan yang ada, dan jalani semua dengan kerelaan. Dengan begitu kamu akan menjadi manusia dewasa yang sebenarnya.

Beginilah Rasanya Jadi Mahasiswa yang Kuliah di Jurusan Sastra

| 2282 shares

Memilih jurusan kuliah memang susah-susah gampang. Hmmm…kalau mendengar ‘Jurusan Sastra’, kira-kira apa yang kamu pikirkan? Di Indonesia, belum banyak lho orang yang tahu gimana sebenarnya rasanya jadi anak Sastra.

Bisa nulis puisi, kutu buku, introvert, nggak jelas mau kerja apa, lulus kuliahnya tertunda: banyak deh stereotip yang melekat ke anak-anak Sastra. Tapi, memang stereotip itu benar semua? Nah, kalau mau tau lebih lanjut tentang gimana rasanya jadi anak Jurusan Sastra, simak selengkapnya di sini!

 

1. Masuk jurusan sastra (sempat) membuatmu merasa (lebih) ‘keren’

"aku merasa keren"

“aku merasa keren” via cheezburger.com

Sastra termasuk jurusan yang nggak banyak peminatnya. Ketika memutuskan masuk Sastra, kamu merasa pilihanmu nggak mainstream. Kamu mungkin berpikir bahwa teman-teman akan melihatmu dengan ekspresi seperti ini…

 

wow, kamu keren banget!

wow, kamu keren banget! via stilettosandtequila.wordpress.com

 

 

2. Tapi kenyataannya, mereka justru menganggap kamu dan pilihanmu itu ‘nggak keren’

hmm...kamu nggak keren

hmm…kamu nggak keren via communitythings.tumblr.com

Mungkin, kamu bakal dianggap keren jika memilih Kedokteran, Hukum, Teknik, atau Ekonomi.

 

 

3. Kamu jadi sering mendengar komentar ‘pedas’ dari saudara atau teman-teman SMA-mu

komentar pedas dari teman atau saudaramu

komentar pedas dari teman atau saudaramu via anniemurphypaul.com

(masuk jurusan Sastra Indonesia): “Lhah, emang belom bisa Bahasa Indonesia?”

(masuk jurusan Sastra Inggris): “Ya elah, Bahasa Inggris mah les privat aja. Ngapain kuliah 4 tahun!”

(masuk jurusan Sastra Arab): “Lo mau jadi TKI di Arab?”

 

Buset dah, serba salah! Gue jurusan Solo–Jogja aja deh kalo gitu!

 

 

4. Karena memilih masuk sastra, kamu sering dikira kutu buku

kamu dikira kutu buku

kamu dikira kutu buku via www.barnesandnoble.com

Kuliah Sastra sering dikaitkan dengan banyaknya buku-buku yang harus dibaca. Ini lho yang kadang membuat temen-temenmu ‘ciut’ mental. Meskipun sebenarnya suka Sastra, mereka akhirnya mengurungkan niat buat memilih jurusan ini.

Pertanyaan abad ini yang kamu rasa perlu dijawab:

“Emang kalau kuliah di Kedokteran atau Teknik bukunya cuma dikit, ya?”

 

 

5. Kamu paling sering dapat ‘orderan’ bikin puisi

sering dapat 'orderan' puisi dari teman-temanmu

sering dapat ‘orderan’ puisi dari teman-temanmu via www.syafir.com

Temen: “Broh, gw mau nembak gebetan nih. Bikinin puisi, dong!”

Kamu: “………Iya, deh.” (nyengir kecut)

 

(Kalau puisi bikinan gue emang ampuh, gue nggak akan 25 tahun jadi jomblo kelesss…)

 

 

6. Biasanya, anak Sastra lulusnya lamaaaaaaa…(banget)!

sastra lulusnya lama?

sastra lulusnya lama? via www.solopos.com

“Ah, sastra susah lulusnya…”

Kemungkinan:

  1. Kamu suka sastra tapi males-malesan

  2. Kamu emang nggak minat-minat amat sama jurusan ini

  3. Saking cintanya sama sastra, kamu nggak rela kalau cepet-cepet lulus (serius ada yang model begini???)

 

 

7. Kamu jadi sering dianggap sebelah mata sama calon mertua. Mungkin Mereka Lupa Kalau Menantu Idaman Itu….

menantu idaman adalah anak sastra

menantu idaman adalah anak sastra via www.keepcalm-o-matic.co.uk

Makna dibalik puisi dan prosa orang aja kami analisa dengan sepenuh hati. Kalau cuma buat memahami makna dibalik perkataan anak Oom dan Tante mah, keciiiil….

 

Entah Kenapa Banyak Anak Sastra Yang Merasakan Ini!

8. “Kayanya, aku salah jurusan…”

"kayanya, aku salah jurusan"

“kayanya, aku salah jurusan” via www.dropoutwear.com

Kenapa milih Sastra? Alasannya, antara asal milih karena bingung atau emang nggak diterima di pilihan jurusan lain pas SBMPTN. Ya udahlah ya, daripada nggak kuliah!

 

 

9. Akhirnya, ini ekspresimu ketika ditanya “Emang sastra kuliahnya ngapain aja?”

"nggak tau"

“nggak tau” via s956.photobucket.com

*senyum manis* *angkat bahu*

HEHE. Sebenarnya kamu juga nggak tahu, sih.

 

 

10. “Kalau udah lulus mau jadi apa?”

"kalau udah lulus, mau jadi apa?"

“kalau udah lulus, mau jadi apa?” via wifflegif.com

Hmmm…jadi……

Hmmm…jadi……

Hmmm…jadi……

Hmmm…jadi……

(kemudian tahun pun berganti, jawabannya masih juga belum kamu temukan)

 

 

11. “Mau kerja dimana?”

"mau kerja dimana?"

“mau kerja dimana?” via giphy.com

Hmmm…di hatimuuuuuu…

Haduh, sebenarnya kamu juga sudah tidak paham mau kerja apa selepas lulus nanti. Yang penting lulus, deh!

 

 

12. Kurang minat pada jurusan yang diambil membuatmu lebih sering bolos kuliah, tidur di kelas, atau kabur ke kantin

kamu milih tidur di dalam kelas

kamu milih tidur di dalam kelas via kvltmagz.com

Lengkapi kalimat berikut ini:

Ketika bapak dosen sedang membacakan puisi Wiji Thukul di depan kelas, yang kamu lakukan adalah (…..)

-TIDUR-

 

 

13. Ketika tugas minggu ini adalah membaca dan menganalisa novel Pride and Prejudice, kamu terpaksa MENYERAH!

"aku menyerah"

“aku menyerah” via rr-bb.com

 

 

14. Ada kalanya kamu merenung: “Aku bisa lulus nggak, ya?”

"aku bisa lulus nggak, ya?"

“aku bisa lulus nggak, ya?” via moms.popsugar.com

 

 

15. Kamu lupa sudah berapa kali berpikir untuk pindah jurusan

berpikir buat pindah jurusan

berpikir buat pindah jurusan via muif-aha.blogspot.com

 

Nah, Lain Cerita Kalau Kamu Emang Beneran Suka Sastra…

 

16. Kuliah sastra aslinya seru banget lho!

kuliah sastra itu seru kok

kuliah sastra itu seru kok via perskanaka.wordpress.com

 

17. Kamu nggak akan sering-sering dapat tugas menulis puisi atau cerpen kok…

jarang ada tugas nulis puisi atau cerpen

jarang ada tugas nulis puisi atau cerpen via sinauwerno-werno.blogspot.com

Sebenarnya, ada banyak sekali yang dipelajari di Jurusan Sastra. Di semester awal, kamu lebih banyak mempelajari ilmu bahasa; kamu bakal ketemu linguistik, sintaksis, morfologi, fonologi, dan lain sebagainya.

 

 

18. Kamu akan lebih banyak diajarkan untuk menganalisa karya-karya sastra yang sudah ada

lebih banyak menganalisa karya sastra yang sudah ada

lebih banyak menganalisa karya sastra yang sudah ada via dailysocial.net

Berbekal kuliah teori atau kritik sastra, kamu dijamin ‘kenyang’ menganalisa karya sastra. Nggak cuma puisi, cerpen, atau novel, kamu juga bisa menganalisa film atau lirik lagu. Kamu dijamin nggak asing dengan nama-nama seperti Edgar Allan Poe, Sylvia Plath, Iwan Simatupang, atau Joko Pinurbo.

 

 

19. Ibarat ‘sambil menyelam minum air’, belajar sastra berarti belajar ilmu-ilmu lain

sambil menyelam minum air

sambil menyelam minum air via garyabraham.blogspot.com

Membaca karya sastra berarti membaca isi dunia. Kadang, untuk bisa mengerti isi sebuah karya, kamu juga perlu belajar tentang Sosiologi, Filsafat, Feminisme, atau Psikologi. Banyak ilmu-ilmu lain yang punya keterkaitan dengan sastra.

 

 

20. Yang paling seru adalah mata kuliah creative writing

'creative writing' jadi mata kuliah yang paling seru

‘creative writing’ jadi mata kuliah yang paling seru via englishcomplit.unc.edu

Creative writing atau penulisan kreatif adalah kesempatanmu buat berekspresi. Kamu bisa menyalurkan bakat menulismu. Kamu bakal sadar bahwa kegalauan hidup dan masalah percintaanmu bisa menghasilkan nilai A.

Nah lho, kalau udah begini nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?

 

21. Ketika skripsi, bisa kok pilih topik yang kamu banget

bisa pilih topik skripsi yang kamu banget

bisa pilih topik skripsi yang kamu banget via putramandirifc.wordpress.com

Contoh judul skripsi di Jurusan Sastra:

Aspek Sosial Politik Dalam Lirik Lagu Efek Rumah Kaca Album Kamar Gelap: Pendekatan Semiotik Riffaterre

Kritik Sosial Dalam Kumpulan Cerpen ‘Lupa Endonesa’ Karya Sujiwo Tejo: Sebuah Tinjauan Semiotik

The Analysis of Voldemort’s Personality Growth in J.K. Rowling’s Harry Potter and the Half-Blood Prince

 

Hmm…gimana, menarik nggak?

Nggak? Kamu jawab nggak?

Ya udah! *brb ngeloyor dengan kalem*

 

22. Setelah lulus, kamu tetep punya pilihan pekerjaan kok…

emma watson juga anak sastra

emma watson juga anak sastra via filgua.com

Mau kerja yang sesuai bidang ilmu? Bisa jadi penulis, editor, penerjemah, atau pengajar. Kalau pilih yang “menyimpang” dari bidang ilmu, kamu bisa juga jadi pegawai bank atau bahkan artis.

“Tuh, Emma Watson juga sarjana Sastra Inggris, sob!”

 

 

23. Kalau kamu bisa memilih sastra dengan mantap, mungkin itu passion-mu.

mereka yang mengikuti passion-nya

mereka yang mengikuti passion-nya via positivelyparkinsons.blogspot.com

Ada dorongan kuat dalam hatimu. Bukan soal keren atau nggak, kamu memang menyukai dan menginginkannya. Sastra adalah renjanamu.

 

 

24. Kuliah di Jurusan Sastra membuatmu sadar bahwa hidup itu harus punya misi

hidup harus punya misi

hidup harus punya misi via expressions-101.tumblr.com

Setiap langkah yang kamu ambil dalam hidup tentu harus punya tujuan yang jelas. Apa sih misi hidupmu? Apakah keberadaanmu di dunia ini sudah membawa manfaat buat sekitarmu?

Segera temukan jawabannya, ya!

 

25. Kuliah di Jurusan Sastra membuatmu sadar bahwa hidup ini bukan cuma soal materi. Ide dan kata-kata? Mereka bisa mengubah dunia…

Words and ideas can change the world

Words and ideas can change the world via lucbeaulieu.com

26. Apapun yang terjadi, kamu akan tetap bangga sudah memilih Jurusan Sastra di bangku kuliah

masuk jurusan satra tetep bikin bangga

masuk jurusan satra tetep bikin bangga via www.facebook.com

Pokoke joget…

Eh salah ya? Pokoknya apapun yang terjadi kamu tetap akan jadi:

ANAK SASTRA GARIS KERAS!


Nah, gimana? Jika kamu mahasiswa atau alumni Jurusan Sastra, semoga makin bangga setelah membaca artikel ini, ya! Buat yang masih sekolah, semoga semakin tertarik buat masuk Jurusan Sastra. Yang pasti, semoga sastra makin populer di Indonesia!

Kamis, 17 Juli 2014

10 Langkah Jitu Redakan Stress

Stress memang sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari, tetapi bukan berarti kita bisa menyepelekannya. Stress tidak hanya memberi dampak negatif bagi aktivitas kita sehari-hari tetapi juga pada kesehatan kita.
redakan stress 10 Langkah Jitu Redakan Stress10 Langkah Jitu Redakan Stress
Bahkan stress diyakini sebagai penyebab berbagai macam penyakit hingga kematian mendadak. Nah, oleh karena itu, mulailah kurangi stress dan segarkan pikiran Anda dengan langkah tepat!

Kurangi Natrium

Terlalu banyak mengkonsumsi natrium, entah itu berupa garam maupun makanan olahan lainnya, bisa memicu rasa kembung muncul akibat yang menyebabkan tubuh menyimpan lebih banyak air dan juga memicu risiko tekanan darah tinggi. Kurangi asupan natrium dengan memilih makanan segar dan hindari makanan olahan maupun kalengan.

Mulailah Berolahraga

Ketika marah atau stress, banyak orang melampiaskannya dengan makan. Ini dikenal dengan emotional eating. Ada juga yang melampiaskannya dengan merokok, atau meneguk secangkir kopi. Saat Anda mulai merasa stres, siapkan diri untuk melakukan olahraga ringan seperti berlari atau jogging. Olahraga selama 10 menit mampu memberikan Anda dorongan mental.

Hindari Emotional Eating

Menangani stress dengan emotional eating dapat berisiko pada kesehatan Anda. konsumsilah buah-buahan dan sayuran. Hindari karbohidrat olahan atau makanan manis karena dapat meningkatkan kadar gula darah Anda dan bisa membuat Anda gemuk.

Tidur Cukup

Kurang tidur akan membuat mood mudah berubah dan membuat kantung mata terlihat hitam sehingga penampilan Anda kurang maksimal. Tidurlah selama 7-8 jam pada malam hari untuk mengisi ulang energi dan menurunkan level stress. Kurangi konsumsi kafein menjelang tidur.

Lakukan Hal Baru

Rutinitas baru akan mempertemukan Anda dengan kondisi yang baru. Potong rambut Anda agar merasa lebih fresh. Cobalah mengambil rute baru menuju tempat bekerja atau makan makanan baru untuk sarapan agar Anda tetap fresh setiap hari.

Jalan-jalan

Jika Anda tidak sempat ke gym, cobalah berjalan keliling lingkungan rumah Anda dan menyapa orang-orang di sekitar untuk membantu mendapatkan kembali energi Anda.

Konsumsi Serat

Serat dapat membantu Anda merasa cepat kenyang sehingga asupan makan Anda lebih sedikit yang membantu menurunkan berat badan. Serat juga membuat kesehatan jantung Anda terjaga lebih baik.

Fokus Pada Masa Kini

Menyadari di mana posisi Anda berada saat ini dan menganalisa apa yang terjadi akan membantu Anda memahami situasi dan menurunkan tingkat stress. Lepaskan pikiran tentang masa lalu atau masa depan, dan fokus pada yang terjadi saat ini.

Hubungi Dokter

Kita semua pasti pernah berusaha mengabaikan sakit kepala, rasa nyeri, atau kondisi kesehatan lainnya yang mengganggu. Jika Anda membiarkan masalah kesehatan ini tanpa pengobatan, bersiaplah terkena penyakit kronis. Periksakan diri Anda ke dokter untuk mengetahui kondisi kesehatan Anda sedini mungkin.

Isi Pikiran Anda

Isi pikiran melalui cara yang baru agar otak Anda merasa lebih fresh misalnya dengan mendengarkan rekaman motivasi, mengisi teka-teki silang, atau bergabung dengan komunitas hobi Anda. Hobi baru akan membuat Anda tetap aktif secara mental dan fisik.

Jangan Stres Jika Tidak Ingin Gemuk!

Stres diketahui dapat memperlambat metabolisme tubuh seseorang khususnya wanita sehingga dapat menyebabkan kenaikan berat badan.
Jangan Stres Jika Tidak Ingin Gemuk Jangan Stres Jika Tidak Ingin Gemuk!Jangan Stres Jika Tidak Ingin Gemuk!
Para peneliti dari Ohio State University, US, membuat satu studi yang melibatkan 58 wanita usia 53 tahun, setiap para peserta studi ditanya mengenai tingkat stres mereka setiap hari.
Kemudian para peserta diberi makanan dengan total kalori sebesar 930 kalori termasuk 60 gram lemak.
Lalu para peneliti menganalisa berapa lama waktu yang dibutuhkan para peserta tersebut untuk membakar lemak dan kalori di dalam tubuh.
Hasilnya diketahui bahwa rata – rata wanita yang mengalami satu kali atau lebih stres dalam waktu 24 jam mereka hanya mampu membakar 104 kalori, lebih sedikit daripada mereka yang tidak stres.
Menurut para peneliti, dalam setiap hari perbedaan itu bisa menambahkan kenaikan berat badan hingga hampir 4,9 kg per tahun.
Alasannya, wanita stres memiliki kadar hormon insulin yang diketahui dapat memberikan kontribusi untuk menyimpan lemak didalam tubuh.
“Dari waktu ke waktu, stres bisa menyebabkan kenaikan berat badan,” kata penulis studi Janice Kiecolt-Glaser, seorang profesor psikiatri dan psikologi di Ohio State University, US.
“Kita tahu, bahwa kita cenderung untuk makan makanan yang salah ketika sedang stres, dan menurut data kami diketahui bahwa ketika makan makanan yang tidak sehat berat badan menjadi lebih mungkin bertambah karena ketika stres metabolisme tubuh melambat,” sambung Glaser.
Pada studi sebelumnya ditemukan bahwa orang stres atau memiliki masalah mood lainnya berada pada tingkat risiko yang lebih tinggi untuk menjadi kelebihan berat badan atau obesitas, penemuan baru ini juga akan menambah bukti kuat akan hal tersebut.
“Kita semua tahu, bahwa kita tidak dapat selalu menghindari stres dalam hidup, tapi satu hal yang bisa kita lakukan untuk mencegah kenaikana berat badan adalah dengan memiliki pilihan makanan yang sehat untuk disimpan di rumah, sehingga ketika stres datang kita bisa mengambil makanan yang tepat,” ujar Martha Belury, seorang profesor nutrisi manusia dan juga rekan penulis studi.

Penyebab Jantung Berdebar

Klikdokter.com - Anda pernah mengalami jantung yang berdegup sangat kencang? Atau berdebar-debar? Jantung berdebar dapat disebabkan karena denyut jantung yang tinggi, atau lebih dari 100 kali/menit atau adanya irama jantung yang tidak teratur. (Baca: 5 Tanda Gagal Jantung)
Terkadang keluhan kesehatan ini memang dapat merupakan pertanda adanya masalah pada jantung. Namun selain itu, jantung berdebar juga dapat disebabkan oleh hal lain:
  1. Adanya serangan panik, rasa khawatir, takut, stres.
  2. Latihan fisik yang terlalu berat.
  3. Konsumsi kafein (kopi), nikotin (rokok), alkohol, obat flu.
  4. Penyakit tiroid, kadar gula darah yang rendah, kurang darah (anemia), tekanan darah rendah, demam atau dehidrasi (kekurangan cairan)
  5. Perubahan hormon seperti selama menstruasi, kehamilan.
  6. Obat-obat pelangsing, asma.
  7. Suplemen herbal dan nutrisi tertentu.
  8. Kadar elektrolit dalam darah yang tidak seimbang/normal.
  9. Makanan tinggi karbohidrat, tinggi gula, tinggi lemak, tinggi  garam dan tinggi MSG.
Jangan sepelekan keluhan jantung berdebar.  Jika keluhan terjadi cukup sering, mengganggu aktivitas, tidak hilang dalam waktu tertentu, terus menerus muncul dan tidak terkait dengan salah satu penyebab di atas maka sebaiknya Anda segera memeriksakan kesehatan jantung Anda. Mungkin diperlukan beberapa pemeriksaan langsung bunyi jantung dan denyut nadi serta pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan EKG (rekam jantung) atau Ekokardiografi (gambar jantung). (Baca: 6 Cara Cepat Mengatasi Jantung Berdebar)

~ Empat Amalan Sebelum Tidur ~


Rasulullah SAW berpesan kepada siti Aisyah ra.
“ Ya, Aisyah! Jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara iaitu :
1. Sebelum khatam al-Quran
2. Sebelum menjadikan para nabi bersyafaat untukmu di hari kiamat
3. Sebelum para muslimin meridhai engkau
4. Sebelum engkau melaksanakan haji dan umrah “

Bertanya siti Aisyah :
“Ya Rasulullah ! bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika? “

Rasul tersenyum dan bersabda :
1. “Jika engkau akan tidur , membacalah surat al –Ikhlas tiga kali
Seakan-akan engkau telah mengkhatamkan Al-Quran
” Bismillaahirrohmaan irrohiim,
‘Qulhuallaahu ahad’ Allaahushshamad’ lam yalid walam yuulad’ walam yakul lahuu kufuwan ahad’ ( 3x ) “
2. “Membacalah shalawat untukku dan untuk para nabi sebelum aku” maka kami semua akan memberimu syafaat di hari kiamat “
“ Bismillaahirrahmaan irrahiim, Allaahumma shallii ‘alaa Muhammad wa’alaa aalii Muhammad ( 3x ) “
3. “Beristighfarlah” untuk para mukminin maka mereka akan meridhai engkau
“ Astaghfirullaahal adziim aladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih (3x )
4. Dan perbanyaklah “bertasbih, bertahmid , bertahlil dan bertakbir” maka seakan-akan engkau telah melaksanakan ibadah haji dan umrah
“ Bismillaahirrahmaan irrahiim, Subhanallaahi Walhamdulillaahi walaailaaha illallaahu allaahu akbar ( 3x )

Kamis, 03 Juli 2014

Tip Terhindar Maag Saat Puasa

TEMPO.CO, Jakarta - Calon wakil presiden nomor urut dua Jusuf Kalla sempat dilarikan ke rumah sakit seusai debat calon wakil presiden pada Ahad, 30 Juni lalu. Kalla diduga menderita maag.
Dokter Ary Fachrial memberikan sejumlah tip tentang keteraturan makan agar terhindar dari ancaman diare dan gangguan pencernaan, seperti maag. Selain pengendalian diri saat berpuasa, perlu diperhatikan soal keteraturan makan dengan mengurangi camilan tidak sehat.
Pakar pencernaan ini menganjurkan para penderita maag agar menghindari makanan yang menyebabkan atau memperberat gejala sakit maag. Misalnya, berpantang makanan dan minuman yang banyak mengandung gas, seperti sawi, kol, nangka, nanas, pisang ambon, buah yang dikeringkan, serta minuman yang mengandung gas atau bersoda.
"Sebaiknya hindari juga makanan yang merangsang pengeluaran asam lambung, seperti kopi, minuman beralkohol 5-20 persen, anggur putih, sari buah sitrus, atau susu full cream,” ucap Ary.
Hal penting lain yakni menghindari makanan sulit cerna yang dapat memperlambat pengosongan lambung, misalnya makanan berlemak, tar, cokelat, dan keju. Sebab, makanan itu dapat menyebabkan peningkatan peregangan di lambung dan asam lambung.
"Sebaiknya hindari makanan yang secara langsung merusak dinding lambung, seperti makanan yang mengandung cuka dan pedas, merica, dan bumbu yang merangsang,” kata Ary. Selain itu, hindari makanan yang melemahkan klep kerongkongan bawah, sehingga menyebabkan cairan lambung dapat naik ke kerongkongan, seperti cokelat, makanan tinggi lemak, dan gorengan.(Baca: Waspada, Takjil Warna Warni Ngejreng)
Penderita maag juga disarankan menghindari makanan yang mengandung sumber karbohidrat, seperti beras ketan, mi, bihun, bulgur, jagung, singkong, talas, dan dodol.
Adapun minuman manis dan tiga butir kurma merupakan menu buka puasa yang paling ideal bagi penderita maag. Setelah itu, dilanjutkan dengan salat magrib, tarawih, dan bersantap malam.
Ary juga mengingatkan, meskipun ada pengurangan asupan makanan pada bulan puasa, porsi makan malam harus tetap seperti biasa. "Jangan kalap lalu beranggapan menggeser jumlah makan siang dikonsumsi saat malam waktu berbuka puasa,” ucapnya.
Sementara itu, saat sahur, sebaiknya kita memilih makanan yang bisa dicerna dengan baik dan memperhatikan kualitasnya baik-baik. »Karena kadang-kadang saat terburu-buru kita hanya menghangatkan makanan saat sahur tanpa memperhatikan kualitas makanannya," kata Ary.